Sabtu, 28 April 2012

Makalah Agama

BAB I
PENDAHULUAN

Di Indonesia tradisi Islam sering dikaitkan dengan budaya lokal yang bernuansa Hindu Budha dan agama adat. Emosi dan identitas lokal ini memperoleh penguatan. Pendeknya, Islam tidak tidak pernah sepi dijadikan objek kajian dengan berbagai macam kepentingan dan cara pandang. Oleh karenanya setiap pengkategorian Islam pasti memiliki kebenaran dan sekaligus kelemahan. Di lingkungan masyarakat jawa misalnya, Islam tercampur dengan tradisi lokal, muslim yang terbaratkan (westernized) yang memperoleh pengaruh barat secara kental sementara tradisi dan wawasan Islamnya sangat minim, mereka yang memahami dan menghayati Islam dalam kadar pas-pasan serta memiliki pemahaman dan apresiasi peradaban barat dan modernisasi yang juga pas-pasan, dan juga mereka yang memiliki kedalaman tentang Islam dan mampu memelihara etos dan disiplin ilmu keislaman.
Kata tradisi adalah sesuatu yang lentur, sebuah nilai yang terus tumbuh. Ketika bicara tentang tradisi, bukan bicara ke belakang tapi berjalan kedepan, menciptakan tradisi baru yang disesuaikan dengan agenda pokok kehidupan masyarakat. Tradisi Sunni secara nyata banyak kita temui ditengah kehidupan masyarakat. Utamanya di Jawa yang Islamnya sering dielaborasi dengan adat dan kebiasaan yang melingkari hidupnya. Misalnya peringatan hari ketiga, ketujuh, empat puluh, seratus, dan seribu hari orang yang meninggal yang dilakukan oleh keluarga dan ahli warisnya. Sebenarnya yang demikian itu tidak pernah ada dalam literatur Islam. Tetapi kegiatan itu hidup dan semakin berkembang hingga saat ini, karena kandungan manfaat yang besar terhadap keberadaan masyarakat itu sendiri. Banyak hikmah yang dapat kita ambil dari peristiwa tersebut. Hikmah inilah yang kemudian diselaraskan dengan hadis dan firman Allah dalam Al Qur’an, sehingga tradisi itu menjadi menarik untuk dikembangkan dan dipertahankan.
Berdasarkan paparan diatas, penulis akan membahas tentang “Islam dan Kebudayaan” terutama mengenai peringatan hari-hari tertentu atas kematian seseorang, dan juga perayaan maulid Nabi dan Isra’ mi’raj Nabi Muhammad Saw. Namun sebelum itu penulis akan membahas terlebih dahulu mengenai budaya Islam secara umum.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Budaya Indonesia Secara Umum
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah. Merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal), diartikan sebagai hal-hal berkaitan dengan budi dan akal manusia. Kebudayaan Indonesia dapat didefinisikan sebagai seluruh kebudayaan lokal yang telah ada sebelum terbentuknya negara Indonesia pada tahun 1945.
Bangsa Indonesia merupakan bangsa majemuk, terdiri dari berbagai suku bangsa yang menyebar di seluruh wilayah tanah air Indonesia. Setiap suku bangsa itu mempunyai kehidupan dan kebudayaan sendiri yang berbeda antara suku satu dengan lainnya. Seluruh kebudayaan lokal yang berasal dari berbagai budaya suku-suku di Indonesia merupakan bagian integral dari kebudayaan Indonesia. Kebudayaan Indonesia walau beraneka ragam, namun pada dasarnya terbentuk dan dipengaruhi oleh kebudayaan besar lainnya, seperti kebudayaan Tionghoa dan kebudayaan India. Kebudayaan India terutama masuk dari penyebaran agama Hindu dan Buddha di Nusantara jauh sebelum Indonesia terbentuk.
Jadi, selama adat dan budaya itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam, silakan melakukannya. Namun jika bertentangan dengan ajaran Islam, seperti memamerkan aurat pada sebagian pakaian adat daerah, atau budaya itu berbau syirik atau memiliki asal-usul ritual syirik dan pemujaan atau penyembahan kepada dewa-dewa atau tuhan-tuhan selain Allah, maka budaya seperti itu hukumnya haram.
Sejak pertama kemunculannya, risalah Islam sangat menentang praktek yang mengarah pada pengakuan atau keyakinan adanya kekuasaan selain Allah Ta’ala di alam semesta ini, dan demikianlah substansi Islam. Yaitu risalah yang mengajarkan tauhid. Dan selanjutnya menyeru kepada manusia, supaya beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mewanti-wanti agar manusia tidak terbawa kepada perbuatan syirik, karena ketundukan itu hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.
Banyak sekali budaya yang merupakan percampuran dengan agama. Kita akan membahas akulturasi budaya peringatan hari-hari tertentu atas kematian seseorang, juga perayaan maulid dan isra mi’raj Nabi Muhammad SAW yang sering kita peringati.

B. Peringatan Hari-hari Tertentu Atas Kematian Seseorang
Peringatan hari-hari tertentu atas kematian seseorang atau sering kita sebut tahlilan. Telah kita maklumi bersama bahwa acara tahlilan merupakan upacara ritual seremonial yang biasa dilakukan oleh keumuman masyarakat Indonesia untuk memperingati hari kematian. Secara bersama-sama, berkumpul sanak keluarga, handai taulan, beserta masyarakat sekitarnya, membaca beberapa ayat Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan disertai do’a-do’a tertentu untuk dikirimkan kepada si mayit. Karena dari sekian materi bacaannya terdapat kalimat tahlil yang diulang-ulang (ratusan kali bahkan ada yang sampai ribuan kali), maka acara tersebut dikenal dengan istilah “Tahlilan”.
Acara ini biasanya diselenggarakan setelah selesai proses penguburan (terkadang dilakukan sebelum penguburan mayit), kemudian terus berlangsung setiap hari sampai hari ketujuh. Lalu diselenggarakan kembali pada hari ke 40 dan ke 100. Untuk selanjutnya acara tersebut diadakan tiap tahun dari hari kematian si mayit, walaupun terkadang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya.
Tidak lepas pula dalam acara tersebut penjamuan yang disajikan pada tiap kali acara diselenggarakan. Model penyajian hidangan biasanya selalu variatif, tergantung adat yang berjalan di tempat tersebut. Namun pada dasarnya menu hidangan “lebih dari sekedarnya” cenderung mirip menu hidangan yang berbau kemeriahan. Sehingga acara tersebut terkesan pesta kecil-kecilan, memang demikianlah kenyataannya.
Sebenarnya acara tahlilan semacam ini telah lama menjadi pro dan kontra di kalangan umat Islam. Sebagai muslim sejati yang selalu mengedepankan kebenaran, semua pro dan kontra harus dikembalikan kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Sikap seperti inilah yang sepatutnya dimiliki oleh setiap insan muslim yang benar-benar beriman kepada Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya.
Awal mula acara tersebut berasal dari upacara peribadatan (baca: selamatan) nenek moyang bangsa Indonesia yang mayoritasnya beragama Hindu dan Budha. Upacara tersebut sebagai bentuk penghormatan dan mendo’akan orang yang telah meninggalkan dunia yang diselenggarakan pada waktu seperti halnya waktu tahlilan. Namun acara tahlilan secara praktis di lapangan berbeda dengan prosesi selamatan agama lain yaitu dengan cara mengganti dzikir-dzikir dan do’a-do’a ala agama lain dengan bacaan dari Al Qur’an, maupun dzikir-dzikir dan do’a-do’a ala Islam menurut mereka.
Dari aspek historis ini kita bisa mengetahui bahwa sebenarnya acara tahlilan merupakan adopsi (pengambilan) dan sinkretisasi (pembauran) dengan agama lain.
Acara tahlilan –paling tidak– terfokus pada dua acara yang paling penting yaitu:
Pertama: Pembacaan beberapa ayat/ surat Al Qur’an, dzikir-dzikir dan disertai dengan do’a-do’a tertentu yang ditujukan dan dihadiahkan kepada si mayit.
Kedua: Penyajian hidangan makanan.
Dua hal di atas perlu ditinjau kembali dalam kaca mata Islam, walaupun secara historis acara tahlilan bukan berasal dari ajaran Islam.
Pada dasarnya, pihak yang membolehkan acara tahlilan, mereka tiada memiliki argumentasi (dalih) melainkan satu dalih saja yaitu istihsan (menganggap baiknya suatu amalan) dengan dalil-dalil yang umum sifatnya. Mereka berdalil dengan keumuman ayat atau hadits yang menganjurkan untuk membaca Al Qur’an, berdzikir ataupun berdoa dan menganjurkan pula untuk memuliakan tamu dengan menyajikan hidangan dengan niatan shadaqah.

C. Peringatan Maulid dan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW
1. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Maulid Nabi saw. adalah kelahiran nabi Muhammad Rasulullah saw. Beliau saw. dilahirkan di tengah keluarga bani Hasyim di Makkah. Bertepatan dgn itu terjadi beberapa bukti pendukung kerasulan di antaranya adalah runtuhnya sepuluh balkon istana Kisra padamnya api yg biasa disembah oleh orang-orang Majusi dan runtuhnya beberapa gereja di sekitar Buhairah. Hal ini diriwayatkan oleh Baihaqi. Selain itu Ibnu meriwayatkan bahwa Ibu Rasulullah saw. berkata bayiku keluar aku melihat ada cahaya yg keluar dari kemaluanku menyinari istana-istana di syam.
Ketika memasuki bulan Rabi’ul Awal, umat Islam merayakan hari kelahiran Nabi SAW dengan berbagai cara, baik dengan cara yang sederhana maupun dengan cara yang cukup meriah. Pembacaan Shalawat, Barzanji, dan pengajian-pengajian yang mengisahkan sejarah Nabi Muhammad SAW menghiasi hari-hari bulan itu. Sebenarnya, Bagaimana hukum merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW?
Sekitar lima abad yang lalu, pertanyaan itu juga muncul. Dan Imam Jalaludin al-Suyuthi (849 H-911 H) menjawab bahwa perayaan Maulid Nabi SAW boleh dilakukan. Sebagaimana dituturkan dalam al-Hawi Li al-Fatawi:
“Ada sebuah pertanyaan tentang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW pada bulan Rabi’ul Awal, bagaimanakh hukumnya menurut syara’. Apakah terpuji ataukah tercela, dan apakah orang yang melakukannya diberi pahala atau tidak? Menurut beliau bahwa asal perayaan Maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan kehidupannya. Kemudian menghidangkan makanan yang bisa dinikamti bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu termasuk bid’ah hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan Nabi SAW, menampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW yang mulia (Al-Hawi li al-Fatawi, Juz I, hal 251-252)
Jadi, sebetulnya hakikat perayaan maulid Nabi SAW itu merupakan bentuk pengungkapan rasa senang dan syukur atas terutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia ini. Yang diwujudkan dengan cara mengumpulkan orang banyak. Lalu diisi dengan pengajian keimanan dan keislaman, mengkaji sejarah dan Akhlaq Nabi SAW untuk diteladani. Pengungkapan rasa gembira itu memang dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan anugerah dari Tuhan. Sebagaimana Firman ALLAH SWT:
قُل بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَليَفرَحُوا .
“Katakanlah (Muhammad), sebab fadhal dan rahmat ALLAH (kepada kalian), maka bergembiralah kalian. (QS. Yunus, 58)
Ayat ini, jelas-jelas menyuruh kita umat Islam untuk bergembira dengan adanya rahmat Allah SWT. Sementara Nabi Muhammad SAW adalah rahmat atau anugerah Tuhan kepada manusia yang tiada taranya. Sebagaimana Firman ALLAH SWT:
وَمَا أرسَلنَاكَ اِلاَرَحمَةًَ لِلعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya, 107)
Sesungguhnya, perayaan maulid itu sudah ada dan telah lama dilakukan Rasulullah SAW. Dalam sebuah Hadits diriwayatkan:
عَن أَبِي قَتَادَة اْلأنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنهُ
أَنَّ رَسُولُ اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ سُأِلَ عَن صَومِ
اْلاءثْنَينِ فَقَلَ فِيهِ وُلِدتُ وَفِيهِ أُنزِلَ عَلَيَ
“Diriwayatkan dari Abu Qutadah al-Anshari RA. bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa senin. Maka beliau menjawab, “Pada Hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku.” (Shahih Muslim [1997])
Beliau bersyukur kepada Allah SWT pada hari tersebut atas karunia Tuhan yang telah menyebabkan keberadaannya. Rasa syukur itu beliau ungkapkan dengan bentuk Puasa.
Paparan ini menyiratkan bahwa merayakan kelahrian (Maulid) Nabi Muhammad SAW termasuk sesuatu yang boleh dilakukan. Apalagi perayaan maulid itu isinya adalah bacaan Shalawat, Barzanji atau Diba’, Sedekah dengan beraneka ragam makanan, pengajian agama dan sebagainya yang merupakan amalan-amalan yang memang dianjurkan oleh syari’at Islam. Sayyid Muhammad ‘Alawi al-Maliki mengatakan:
“Pada pokoknya, berkumpul untuk mengadakan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan sesuatu yang sudah lumrah terjadi. Tapi hal itu termasuk kebiasaan yang baik yang mengandung banyak kegunaan dan manfaat yang (akhirnya) kembali kepada umat sendiri dengan beberapa keutamaan (didalamnya). Sebab, Kebiasaan seperti itu memang dianjurkan oleh Syara’ secara parsial (bagian-bagiannya).
Sesungguhnya perkumpulan itu merupakan sarana yang baik untuk berdakwah. Sekaligus merupakan kesempatan emas yang seharusnya tidak boleh terlewatkan. Bahkan menjadi kewajiban para da’i dan ulama untuk mengingatkan umat kepada akhlaq, sopan santun, keadaan sehari-hari, sejarah, tata cara bergaul, dan ibadah Nabi Muhammad SAW. Dan hendaknya mereka menasehati dan memberikan petunjuk untuk selalu melakukan kebaikan dan keberuntungan. Dan memperingatkan umat akan datangnya bala’ (ujian), bid’ah, kejahatan, dan berbagai fitnah. (Mafahim Yajib an Tushahhah. 224-226)
Hal ini diakui oleh Ibnu Taimiyyah:
“Ibnu Taimiyyah berkata, “Orang-orang yang melaksanakan perayaan Maulid Nabi SAW akan diberi pahala. Demikian pula yang dilakukan oleh sebagian orang, adakalanya bertujuan meniru dikalangan nasrani yang memperingati kelahiran ISA AS, dan adakalanya juga dilakukan sebagai ekspresi rasa cinta dan penghormatan kepada Nabi SAW. ALLAH SWT akan memberi pahala kepada mereka atas kecintaan mereka kepada Nabi mereka, bukan dosa atas bid’ah yang mereka lakukan.” (Manhaj al-Salaf fi Fahm al-Nushush Bain l-Nazhariyyah wa al-Tathbiq, 339)
Maka sudah sewajarnya kalau umat Islam merayakan Maulid Nabi SAW sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Dan juga karena isi perbuatan tersebut secara satu per satu, yakni membaca shalawat mengkaji sejarah Nabi SAW, sedekah, dan lain sebagainya merupakan amalan yang memang dianjurkan dalam syari’at Islam.
Orang yang merayakan maulid Nabi ingin mengagungkan beliau ingin menampakkan kecintaan dan besarnya harapan untuk mendapatkan kasih sayang beliau dari perayaan yang diadakan dan dan ingin menghidupkan semangat kecintaan kepada Nabi saw. Sebenarnya semua ini adalah termasuk ibadah. Mencintai Rasul adalah ibadah bahkan iman seseorang tidak sempurnya sehingga ia lebih mencintai Rasul dari pada dirinya, anaknya, orang tuanya dan semua manusia. Mengagungkan Rasulullah saw. juga termasuk ibadah. Haus akan kasih sayang Rasulullah saw. juga merupakan bagian dari dien. Oleh karen itu seseorang menjadi cenderung kepada syariat beliau.
Jika demikian tujuan merayakan maulid nabi adalah untuk bertaqarrub kepada Allah dan pengagungan terhadap Rasul-Nya. Ini adl ibadah. Bila ini ibadah maka tidak boleh membuat hal yang baru yang bukan dari Allah dan dimasukkan ke dalam agama-Nya selama-lamanya. Maka dari itu jelaslah bahwa perayaan maulid Nabi saw. Adalah sesuatu yang diada-adakan dan haram hukumnya.
Selain itu kita juga mendengar bahwa dalam perayaan ini terdapat kemungkaran-kemungkaran besar yg tidak diterima oleh syara, perasaan ataupun akal. Mereka melantunkan nyanyian-nyanyian untuk maksud-maksud tertentu yang sangat berlebihan tentang Rasulullah saw. Sehingga mereka menjadikan Rasulullah saw. lebih agung dari pada Allah. Kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut. Kita juga mendengar bahwa sebagian orang karena kebodohan mereka merayakan maulid Nabi apabila salah seorang membacakan kisah tentang kelahiran Nabi saw. dan jika sudah sampai pada lafadz Nabi dilahirkan mereka berdiri dengan serempak. Mereka berkata “Rasulullah saw. telah datang maka kami pun berdiri utk mengagungkannya.” Ini adalah kebodohan. Dan ini bukanlah adab karena beliau membenci bila disambut dengan berdiri. Para sahabat adalah orang yang paling mencintai dan mengagungkan beliau tetapi mereka tidak berdiri bila menyambut beliau karena mereka tahu bahwa beliau membenci hal itu. Saat beliau masih hidup saja tidak boleh apalagi setelah beliau tidak ada.
Dalam bidah ini bidah maulid Nabi yang terjadi setelah berlalunya tiga generasi mulia yaitu para sahabat tabiin dan tabiat tabiin terdapat pula kemungkaran yang dilakukan oleh orang-orang yang merayakannya yang bukan dari pokok ajaran dien. Terlebih lagi terjadinya ikhtilath {campur baur} antara laki-laki dan perempuan. Dan masih banyak kemungkaran-kemungkaran yg lain. {Fatawa Syeikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin}.
Kiranya apa yg dikatakan oleh Syaikh Utsaimin di atas cukup menjelaskan kepada kita tentang hukum merayakan maulid Nabi saw.
Meskipun mengetahui sejarah dan mengenal Nabi saw. Adalah wajib bagi kita bangga karena beliau adalah rahmat bagi seluruh alam dan selalu mengenang beliau adalah tugas kita namun tidak berarti kemudian kita diperbolehkan untuk memuji dan menyanjungnya secara berlebih-lebihan dan tidak berarti kita boleh mengenangnya dengan melakukan perilaku dan amalan yang justru hal itu tidak pernah dilakukannya dan tidak dianjurkan olehnya.
Seperti yg dilakukan oleh orang-orang sekarang mereka merayakan maulid Nabi yang mereka sebut dengan peringatan maulid Nabi dengan melakukan berbagai amalan dan perbuatan yang justru hal itu bernilai berlebih-lebihan dalam memuji Nabi atau bahkan merupakan hal baru yg mereka ada-adakan.
Lebih dari itu sebagian perilaku mereka itu ada yang termasuk dalam kategori kesyirikan yaitu apabila mereka memuji Rasulullah saw. dengan sanjungan-sanjungan dan pujian-pujian yg berisi bahwa Rasulullah saw. mampu melakukan hal-hal yg seharusnya hanya hak dan kekuasaan Allah. Walaupun tujuan merayakannya adalah ibadah namun karena tidak ada tuntunannya maka perbuatan itu sia-sia belaka dan justru berubah menjadi dosa dan pelanggaran. Karena ibadah itu harus dibangun dgn dalil yang menunjukkannya. Mengapa memperingati dan mengenang Nabi saw. harus dilakukan sekali dalam setahun padahal sebagai muslim harus selalu mengenang Nabi dan meneladaninya dalam segala aspek kehidupannya. Bahkan minimal seorang muslim harus menyebut nama Nabi Muhammad saw. lima kali dalam sehari semalam yaitu pada syahadat dalam salat wajib.
Mengagungkan dan mencintai Nabi adalah sesuatu yang terpuji dan dianjurkan dalam Islam tapi dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Rasulullah saw. melarang umatnya melakukan sesuatu yang tidak pernah dicontohkan olehnya dalam segala hal. Bagaiamana mungkin orang yang mengaku mencintai dan menyanjung Rasulullah saw. akan tetapi justru melakukan sesuatu yg sangat dibenci olehnya.
Perintis perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW
Orang yang pertama kali menyelenggarakan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah Raja Muzhaffar Abu Sa’id al-Kukburi bin Zainuddin ‘Ali bin Buktikin yaiut seirang raja yang mulia, raja yang shaleh dan terkenal sebagai raja yang pemurah dan baik hati.
Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman al-Dzahabi mengatakan bahwa “Raja Muzhaffar merupakan raja yang agamis, beliau seorang yang rendah hati, baik hati, seorang ahl Sunnah Wal Jamaah dan mencintai fuqaha dan ahli hadits. Beliau wafat tahun 136 H pada usia beliau 82 tahun”.

D. Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW
Bulan Rajab, bulan yang dihormati manusia. Bulan ini termasuk bulan haram (Asyhurul hurum). Banyak cara manusia menghormati bulan ini, ada yang menyembelih hewan, ada yang melakukan shalat khusus Rajab dan lain-lainnya.Di bulan ini juga, sebagian kaum muslimin memperingati satu peristiwa yang sangat luar biasa, peristiwa perjalanan Rasulullah Shallallahu’alaihi dari Makkah ke Baitul Maqdis, kemudian ke sidratul muntaha menghadap Pencipta alam semesta dan Pemeliharanya. Itulah peristiwa Isra’ dan Mi’raj.
Peristiwa ini tidak akan dilupakan kaum muslimin, karena perintah sholat lima waktu sehari semalam diberikan oleh Allah pada saat Isra’ dan Mi’raj. Tiang agama ini tidak akan lepas dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.
Akan tetapi, haruskah peristiwa itu diperingati? Apakah peringatan Isra’ mi’raj yang dilakukan kaum ini merupakan hal yang baik ataukah satu hal yang merusak agama?
"Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya".
(Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). "Semua bid'ah itu sesat"
Bid`ah sebagian orang mengartikan bahwa Bid`ah itu adalah sesuatu yang baru yang belum ada pada Masa Nabi Muhammad SAW. Sebagian orang menganggap bahwa semua yang baru itu adalah sesat dan setiap kesesatan adanya di Neraka. Mereka mengacu pada Hadits Nabi yang mengatakan كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ "Setiap Bid`ah itu sesat". Mereka menafsirkan bahwa kata "Kullu" ada Hadits tersebut adalah "semua", tetapi sebagian mufassiriin hadits tidak mengatakan demikian, mereka berpendapat bahwa kata "Kullu" pada hadits tadi bukannlah "semua", melaikan artinya adalah "sebagian". Mereka menyebutkan pula bahwa banyak dalam ayat Al-Qur`an yang mengartikan "Kullu" itu bukan "semua", tetapi sebagian.
Pada mukaddimah diatas, di cantumkan sebuah hadits shoheh yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwa "Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya". itu yang menjadi sandaran hukum sebagian mufassirin hadits yang memperbolehkan atau bahkan menganjurkan untuk membuat sesuatu yang baru dalam dunia islam yang pastinya bermanfaat.
Menurut sebagian Mufassirin Hadits, dari kedua hadits tadi dapat disimpulkan bahwa bid`ah itu terbagi ke dalam 2 kategori:
1. Bid`ah Dholalah / sesuatu yang baru, yang dipandang menyesatkan dan tidak sesuai dengan syariah hukum islam.
2. Bid`ah Hasanah / sesuatu yang baru, yang dipandang baik dan sesuai dengan aturan syariah islam.
Mari kita ambil sebuah contoh tentang hal yang baru, yang tidak ada pada zaman Rosul. Misalnya pesawat terbang. Pesawat terbang baru ditemukan orang pada awal abad ke 20-an. Kalau dimisalkan pesawat tadi digunakan orang untuk pergi liburan ke Haway, ke lasvegas (untuk berjudi) maka otomatis kita akan men-capnya sebagai sesuat kemaksiatan dan itu termasuk bid`ah yang dholalah (sesat), tetapi kalau pesawat tadi digunakan orang untuk berangkat pergi haji ke tanah suci dan umrah maka apakah itu sesuatu kemaksiatan? jelas bukan. Itu adalah Ibadah rukun islam yang kelima itu termasuk bid`ah yang hasanah.
Pada masa Rosulullah SAW, memang Maulid dan Isra Mi`raj tidak Beliau peringati, Perayaan Maulid Nabi diperkirakan pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil, di Irak, pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193). Adapula yang berpendapat bahwa idenya sendiri justru berasal dari Sultan Salahuddin sendiri. Tujuannya adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu, yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan kota Yerusalem.
Bid`ah itulah kata yang diucapkan oleh sebagian orang yang tidak sependapat dengan orang yang selalu memperingati Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Isro Mi`raj. Berikut 5 alasan mengapa banyak orang yang selalu memperingati Maulid dan Isra Mi`raj Nabi:
1.. Syukur nikmat Iman dan Islam atas Syariah yang telah dibawa oleh Baginda Nabi SAW dari Allah SWT. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu dan jika kamu mengingkari maka sesungguhnya azabKu sangat pedih." (QS. Ibrahim : 7)
"Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki yang ada diantara kamu, tetapi dia adalah rasulullah dan penutup para nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu".(QS: Al-Ahzab ayat 40 (33:40)
2. Mensyiarkan Agama Islam.
Melihat sejarah pertama kalinya dirayakan maulid, bahwa tujuan dirayakannya maulid untuk membangkitkan kembali semangat syiar dalam agama Allah, Allah berfirman: "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar (QS Ali Imran: 110)
3. Tholabul Ilmi.
Rasul bersabda: "Mencari Ilmu itu wajib bagi muslim laki-laki dan muslim wanita", " Carilah ilmu dari lahir sampai meninggal".
4. Mengharap Pahala.
"Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya".
"Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling maka sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS Al Mumtahanah: 6).
5. Cinta Rosul.
Rasul bersabda: "Barang siapa yang mengikuti sunahku, sungguh ia cinta padaku dan barang siapa yang cinta padaku, ia akan disurga bersamaku".










ANALISIS

Hubungan antara Islam dan tradisi lokal sangatlah besar, secara nyata sering kita temui Islam yang di elaborasikan dengan adat dan kebiasaan. Misalnya, peringatan ketiga, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu hari orang yang meninggal yang di lakukan oleh keluarga dan ahli warisnya, peringatan maulid serta isra` dan mi`raj. Sejatinya yang seperti itu tidak pernah ada dalam literatur islam.
Tapi Semuanya kembali kepada niat kita, karena "sesungguhnya semua amal itu tergantung niat". Kalau niatnya baik, insya Allah hasilnya akan baik (Ridlo Allah), tetapi kalau niatnya sudah jelek, otomatis hasilnya juga jelek. Pastinya setiap kegiatan itu harus mengandung manfaat yang besar terhadap keberadaan masyarakat itu sendiri. Hikmah dan manfaat itulah yang di selaraskan dengan berbagai hadist dan firman Allah dalam Al-Qur`an. Sehingga tradisi menjadi menarik untuk di kembangkan dan di pertahankan.
Sebenarnya Dunia Islam sedang menunggu kebangkitan muslim yang ada di Indonesia, mereka mengibaratkan bangsa kita ini sebagai macan yang sedang terlelap dalam dunia islam bagi bangsa kafir yang hendak menghancurkan dunia Islam. Kalau kita masih memperbesar perbedaan pendapat ini, sampai kapan islam mau bangkit? jangan sampai kita sebagai warga negara yang mayoritas islam ini kalah sama minoritas. Biarlah perbedaan pendapat ini mejadi rahmat bagi kita.










DAFTAR PUSTAKA

Busyairi, A. Harits. 2010. Islam NU: Pengawal Tradisi Sunni Indonesia. Surabaya: Khalista.
http://belajarcepatbacaalquranalbayan.wordpress.com/2011/02/16/hukum-merayakan-maulid-nabi-muhammad-saw/, 27 Mei 2011
http:// hukum-memperingati-maulid-nabi-saw.html, 27 mei 2011
http://www.wahdah.or.id/wis Powered by: Joomla! Generated: 27 May, 2011, 08:53
http://dedysuhatri.multiply.com/journal/item/10/5_Alasan_menapa_memperingati_Maulid_Nabi_Muhammad_dan_Isra_Miraj, 28 Mei 2011





















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar