Minggu, 02 Oktober 2011

Prinsip-prinsip Manajemen Kelas

BAB II
PEMBAHASAN

1. Mengajar dan manajemen kelas
Kegiatan mengajar dimaksudkan secara langsung menggiatkan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran. Kegiatan mengajar antara lain seperti menelaah kebutuhan peserta didik, menyusun rencana pembelajaran, menyajikan bahan, mengajukan pertanyaan, dan menilai kemajuan siswa. Kegiatan manajerial kelas bermaksud menciptakan menciptakan dan mempertahankan suasana kelas agar kegiatn belajar-mengajar dapat berlangsung secara berkelanjutan. Kegiatan manajerial antara lain seperti mengembangkan hubungan yang baik antara guru dan peserta didik, memberikan ganjaran dengan segera, mengembangkan aturan main dalam kegiatan kelompok, penghentian tingkah laku peserta didik yang menyimpang atau tidak sesuai dengan tata tertib. Dengan demikian, dalam proses belajar-mengajar di sekolah dapat dibedakan adanya dua kelompok masalah yaitu masalah pengajaran dan masalah manajemen kelas.
Banyak guru yang kurang mampu membedakan masalah pengajaran dan masalah manajemen kelas, sehingga pemecahannya pun menjadi kurang tepat. Masalah manajemen kelas harus ditanggulangi dengan tindakan manajemen kelas, sedangkan masalah pengajaran harus ditanggulangi dengan tindakan pembelajaran.
Mengajar dengan manajemen dapat dibedakan, namun dalam pelaksanaan pembelajaran keduanya sulit dipisahkan. Manajemen kelas bermaksud menegakkan dan memelihara perilaku siswa menuju pembelajaran yang efektif dan efisienmemnudahkan pencapaian tujuan pengelolaan. Pengajaran dan manajemen bertujuan menyiapkan atau memproses perilaku-perilaku guru dan/atau siswa yang diharapkan memberikan kemudahan dalam pencapaian tujuan tertentu.


2. Pengertian dan tujuan manajemen kelas
Manajemen dari kata management yang diterjemahkan menjadi pengelolaan, berarti proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Di pihak lain, pengelolaan berarti :
a. Proses melakukan kegiatan tertentu dengan menggerakkan tenaga orang lain,
b. Proses yang membantu merumuskan kebijaksanaan dan tujuan organisasi,
c. Proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapaian tujuan ( Depdikbud, 1989 )
Dalam arti umum, kelas menunjuk kepada pengertian sekelompok siswa yang ada pada waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama, dan dari guru yang sama pula. Dalam arti lain, manajemen kelas adalah mengacu kepada penciptaan suasana atau kondisi kelas yang memungkinkan siswa dalam kelas tersebut dapat belajar dengan baik, terus menerus, dan berkelanjutan.
Terdapat sejumlah definisi tentang manajemen kelas, yang berpangkal pada sudut pandang yang berbeda:
a. Berdasar konsepsi lama dan modern
Menurut konsepsi lama manajemen kelas adalah sebagai upaya mempertahankan ketertiban kelas. Sementara itu, menurut konsepsi modern, manajemen kelas adalah proses seleksi yang menggunakan alat yang tepat terhadap problem dan situasi manajemen kelas.
b. Berdasarkan pandangan operasional yang dikemukakan Cooper (1986) manajemen kelas dikelompokkan menjadi lima definisi sebagai berikut ini :
Pertama, memandang bahwa manajeman kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa. Tugas guru adalah menciptakan dan memelihara ketertiban suasana kelas, penerapan disiplin sangat diutamakan. Dengan demikian, definisi manajemen kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana.
Kedua, pandangan ini menekankan bahwa guru bertugas memaksimalkan perwujudan kebebasan siswa. Definisi manajemen kelas menurut pandangan kedua ini adalah seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa.
Ketiga, definisi yang didasarkan atas pandangan proses perubahan tingkah laku. Menurut pandangan ini tugas guru adalah mengembangkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diharapkan. Dalam hal ini, guru berfungsi sebagai pembantu siswa dalam mempelajari tingkah laku yang diharapkan melalui prinsip-prinsip penguatan. Dengan demikian, definisi manajemen kelas menurut pandangan ini adalah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan.
Keempat, didasarkan atas pandangan proses penciptaan iklim sosio-emosional yang positif di dalam kelas. Peranan guru adalah menciptakan iklim sosio emosional kelas yang positif melalui penumbuhan hubungan interpersonal yang sehat. Dengan demikian, definisi manajemen kelas menurut pandangan ini adalah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio-emosional yang positif.
Kelima, definisi yang didasarkan pada pandangan bahwa kelas merupakan system sosial dengan proses kelompok sebagai kuncinya. Dengan demikian, definisi manajemen kelas menurut pandangan ini adalah seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan kelas sebagai kelompok yang efektif.
c. Pengertian lain manajemen kelas adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar-mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik.
Dengan demikian, tujuan manajemen kelas adalah:
a. Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk belajar dan berbuat lebih baik.
b. Menghilangkan hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.
c. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perlengkapan belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emossional, dan intelektual siswa dalam kelas.
d. Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya, serta sifat-sifat individualnya .
3. Aspek, Fungsi, dan Pengaturan Siswa dalam Manajemen Kelas
a) Aspek Manajemen Kelas
Aktivitas guru mengatur dan mendisiplinkan peserta didik adalah tindakan yang sudah tidak tepat lagi. Dewasa ini, aktivitas guru yang terpenting adalah mengelola, mengorganisasi, dan mengkoordinasi usaha atau aktifitas peserta didik menuju tujuan pembelajaran.
Mengelola kelas merupakan keterampilan yang harus dimiliki guru dalam memutuskan, memahami, mendiagnosis, dan kemampuan bertindak menuju perbaikan suasana kelas terhadap aspek-aspek manajemen kelas. Adapun aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manajemen kelas yaitu:
a. Sifat kelas
b. Pendorong kekuatan kelas
c. Situasi kelas
d. Tindakan selektif
e. Tindakan kreatif
f. Kondisi kelas (Johnson dan Bany, 1970)
Kegiatan-kegiatan yang perlu dilaksanakan dalam manajemen kelas sebagai aspek-aspek manajemen kelas seperti tertuang dalam Petunjuk Pengelolaan Kelas di Sekolah Dasar (Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen, 1996) adalah sebagai berikut:
a. Mengecek kehadiran siswa,
b. Mengumpulkan hasil pekerjaan siswa,
c. Mendistribusikan bahan dan alat,
d. Mengumpulkan informasi identitas siswa,
e. Mencatat data,
f. Memelihara arsip,
g. Menyampaikan bahan pelajaran,
h. Memberikan tugas/PR.
Sementara itu, hal-hal yang perlu diperhatikan para guru dalam pertemuan dengan siswa di kelas adalah seperti berikut ini:
a. Ketika bertemu dengan siswa, guru harus:
1) Memberikan salam lalu memperkenalkan diri
2) Memberikan format tentang pengisian identitas siswa
b. Guru memberikan tugas kepada siswa,
c. Guru memberikan tempat duduk siswa secara tertib dan teratur,
d. Guru menentukan tata cara berbicara dan Tanya jawab,
e. Guru membuat denah kelas atau tempat duduk siswa (Dirjen PUOD dan Dirjen Disdasmen, 1996:13).

b) Fungsi Manajemen Kelas
a) Memberikan dan melengkapi fasilitas untuk segala macam tugas seperti membantu kelompok dalam pembagian tugas, membantu pembentukan kelompok, membantu kerjasama dalam menentukan tujuan-tjuan organisasi, membantu individu agar dapat bekerja sama dengan kelompok atau kelas, membantu prosedur kerja, mengubah kondisi kelas;
b) Memelihara agar tugas-tugas itu dapat berjalan lancar.

c) Pengaturan Siswa dalam Manajemen Kelas
Pengaturan siswa dapat dikelompokkan kedalam dua kategori yaitu masalah individual dan masalah kelompok (Entang dan Raka Joni, 1983:12). Suharismi Arikunto (1986) membedakan dan meninjau pengaturan siswa atas dua sudut pandangan sehingga ada dua jenis pengelolaan siswa. Pertama, pengelolaan siswa dalam arti sempit, yang selanjutnya disebut pengelolaan atau manajemen kelas. Kedua, pengelolaan siswa dalam arti luas yaitu pengelolaan siswa termasuk juga urusan diluar tindakan kelas.
Tindakan manajemen kelas yang dilakukan oleh seorang guru akan efektif apabila ia dapat mengidentifikasi dengan tepat hakikat masalah yang dihadapi, sehingga gilirannya ia dapat memilih strategi penanggulangan yang tepat pula.
Munculnya masalah individu didasarkan pada anggapan dasar bahwa semua tingkah laku individu merupakan upaya mencapai tujuan tertentu yaitu pemenuhan kebutuhan untuk diterima oleh kelompok atau masyarakat dan untuk mencapai harga diri. Bila kebutuhan-kebutuhan itu tidak lagi dapat dipenuhi melalui cara-cara yang wajar, individu yang bersangkutan akan berusaha untuk mencapainya dengan cara-cara lain seperti bertindak dengan cara yang tidak baik atau a-sosial (Dreikurs, 1968). Dreikurs menyatakan bahwa akibat dari tidak terpenuhinya kebutuhan tersebut akan terjadi beberapa kemungkinan tindakan siswa seperti berikut:
a. Tingkah laku yang ingin mendapat perhatian orang lain (attention getting behaviors). Gejala yang Nampak adalah siswa membadut di kelas (aktif), atau dengan berbuat serba lamban sehingga perlu mendapat pertolongan ekstra (pasif).
b. Tingkah laku yang ingin menunjukkan kekuatan (power seeking behaviors). Gejalanya adalah siswa selalu mendebat, kehilangan kendali emosional, marah-marah, menangis (aktif), atau selalu lupa pada aturan-aturan penting di kelas (pasif).
c. Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain (revenge seeking behaviors). Gejalanya adalah tindakan menyakiti orang lain seperti memukul, mengata-ngatai, menggigit, dsb.
d. Peragaan ketidakmampuan (possive behaviors). Gejalanya adalah dalam bentuk sama sekali tidak mau mencoba melakukan apapun, karena beranggapan bahwa apapun yang dilakukan kegagalanlah yang dialaminya.
Dreikurs dan Casel (1968) menyarankan adanya penyikapan terhadap tindakan peserta didik sebagai berikut:
a. Apabila seorang guru merasa terganggu oleh perbuatan seorang siswa, maka kemungkinan tujuan siswa adalah untuk mendapatkan perhatian.
b. Apabila seorang guru merasa dikalahkan atau terancam, maka kemungkinan tujuan siswa yang bersangkutan adalah ingin menunjukkan kekuasaan.
c. Apabila seorang guru merasa teringgung atau merasa tersakiti, maka kemungkinan tujuan siswa mungkin membalas dendam.
d. Apabila seorang guru benar-benar merasa tidak mampu berbuat apa-apa dalam menghadapi ulah siswa, maka kemungkinan yang dihadapinya adalah peragaan ketidakmampuan.
Keempat kemungkinan cara atau tindakan yang dilakukan individu tersebut mengakibatkan terbentuknya empat pola tingkah laku seperti berikut ini:
a. Pola aktif-konstruktif yaitu pola tingkah laku yang ekstrim dan ambisius untuk menjadi super star di kelasnya, dan mempunyai daya usaha untuk membantu guru dengan penuh vitalitas dan sepenuh hati.
b. Pola aktif-destruktif yaitu pola tingkah laku yang diwujudkan dalam bentuk banyolan, suka marah, kasar, dan memberontak.
c. Pola pasif-konstruktif yaitu pola yang menunjuk pada satu bentuk tingkah laku yang lamban dengan maksud supaya selalu dibantu dan mendapatkan perhatian.
d. Pola pasif-destruktif yaitu pola tingkah laku yang menunjukkan kemalasan dan keras kepala.
Masalah berikutnya adalah masalah kelompok. Masalah ini merupakan masalah yang harus diperhatikan pula dalam manjemen kelas. Problem kelompok akan muncul disebabkan oleh tidak terpenuhinya kebutuhab-kebutuhan kelompok. Masalah kelompok yang mungkin muncul dalam manajemen kelas adalah:
a. Kelas kurang kohesif lantaran alasan jenis kelamin, suku, tingkat sosial ekonomi, dsb.
b. Penyimpangan dari norma-norma tingkah laku yang telah disepakati sebelumnya.
c. Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya, misalnya mengejek anggota kelas yang dalam pengajaran seni suara menyanyi dengan suara sumbang.
d. “membombong” anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok, misalnya pemberian semangat.
e. Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap.
f. Semangat kerja rendah karena menganggap tugas yang diberikan kurang fair.
g. Kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru seperti gangguan jadwal, guru kelas terpaksa diganti sementara dengan guru lain, dsb (Entang dan Tata Joni, 1983).
Johson dan Bany mengemukakan ciri-ciri kelompok dalam kelas seperti berikut:
a. Kesatuan kelompok
Kesatuan kelompok memegang peranan penting dalam mempengaruhi anggota-anggotanya dalam bertingkah laku. Kesatuan berkaitan dengan komunikasi, perubahan sikap dan pendapat, standar kelompok, dan tekanan terhadap perpecahan kelompok atau ketidaksatuan. Penggunaan dominasi yang kuat oleh anggota kelompok dapat meningkatkan kesatuan. Kesatuan dapat dikembangkan dengan menolong siswa agar menyadari hubungan mereka satu sama lain sebagai alat pemersatu.
b. Interaksi dan komunikasi
Interaksi terjadi dalam komunikasi. Jika beberapa orang atau anggota mempunyai pendapat tertentu, terjadilah komunikasi dalam kelompok dan diteruskan dengan interaksi membahas pendapat tersebut yang sering disertai dengan emosi yang memperkuat interaksi. Oleh karena itu, tiap kelompok hendaknya berusaha mempertahankan interaksi kelompoknya. Agar terjadi interaksi dan komunikasi yang diharapkan, guru perlu membantunya supaya tugas-tugas belajar dapat berlangsung secara wajar. Guru perlu mengetahui kebutuhan berkomunikasi siswa-siswanya dan memberikan kebebasan kepadanya untuk berbicara. Komunikasi verbal atau non verbal, bila tidak terselesaikan dapat membuat situasi rusak. Untuk membantu mereka, guru perlu mengetahui latar belakang mereka.
c. Struktur kelompok
Struktur informal dalam kelompok dapat mempengaruhi struktur formal. Beberapa individu yang mungkin merupakan struktur informal, bila selalu ditempatkan pada posisi yang tinggi dapat merusak keakraban kelompok.
d. Tujuan-tujuan kelompok
Apabila tujuan-tujuan kelompok ditentukan bersama oleh siswa dan guru dalam hubungan dengan tujuan pendidikan, anggota-anggota kelompok akan bekerja lebih produktif dalam menyelesaikan tugasnya. Siswa akan bekerja dengan baik apabila hal itu berhubungan dengan tujuan-tujuan mereka.
e. Kontrol
Hukuman-hukuman yang diciptakan bersama antara guru dan siswa yang akan dikenakan kepada siswa yang melanggar, mungkin dapat memperkecil pelanggaran, kendatipun beberapa anak tetap tidak dapat belajar dengan baik. Cara yang baik adalah guru harus mendiagnosa kebutuhan dan kesukaran kelompok sebelum membantu mereka. Tindakan-tindakan yang digunakan untuk mengontrol kelas adalah:
1) Hukuman atau ancaman
2) Pengubahan situasi atau siasat
3) Dominasi atau pengaruh
4) Kerja sama atau partisipasi
f. Iklim kelompok
Adalah hasil dari aspek-aspek yang saling berhubungan dalam kelompok. Iklim kelompok ditentukan oleh tingkat keakraban kelompok. Keakraban yang kuat akan mengontrol perilaku anggota-anggotanya. Iklim kelompok merupakan hal yang penting dalam mengadakan perubahan dalam kelompok.
Disamping masalah individu dan masalah kelompok, hal lain yang erat kaitannya dengan manajemen kelas adalah organisasi sekolah. Organisasi sekolah menentukan penempatan siswa, pemanfaatan kemampuan dan bakat guru-guru, dan pengelolaan fisik. Organisasi, prosedur, tujuan, dan fisik direncanakan untuk menentukan perilaku siswa.
Pengaruh organisasi sekolah dipandang menentukan di dalam pengarahan perilaku siswa. Guru dan siswa dipengarui oleh organisasi sekolah secara keseluruhan, termasuk cara pengelompokan, kurikulum, rencana fisik, peraturan-peraturan, nilai sikap, dan tindakan.
Kebijakan dan peraturan sekolah memberikan refleksi kepada sikap, nilai, organisasi, tujuan, dan perilaku siswa dalam kelas. Peraturan merupakan penerapan kebijakan. Peraturan-peraturan secara tertulis tidak mengakibatkan interpretasi yang berbeda-beda. Peraturan yang tidak tertulis akan membuat interpretasi yang berbeda-beda antara satu sekolah dengan sekolah lain atau antara guru dengan guru lain. Keadaan ini merupakan aspek organisasi sekolah yang kurang efektif dalam menunjang penciptaan suasana belajar.


































MAKALAH
PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN KELAS
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Kelas
Rombel: 12
Dosen Pengampu: Dra. Arini Esti Astuti M.Pd.

Oleh:
1. Riyani Widyaningsih (1401410059)
2. Nur Aini Dewi (1401410172)



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2011

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manajemen kelas merupakan aspek pendidikan yang dijadikan perhatian utama oleh guru. Karena guru berkeinginan agar peserta didik dapat belajar dengan optimal. Hal itu sejalan dengan pengertian bahwa manajemen kelas merupakan serangkaian kegiatan guru dalam upayanya menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang memungkinkan peserta didik mencapai tujuan-tujuan belajarnya secara efisien sehingga memungkinkan peserta didik belajar dengan baik.
Pengelolaan kelas tidak hanya berupa pengaturan kelas, fasilitas fisik dan rutinitas. Kegiatan pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan dan mempertahankan suasana dan kondisi kelas. Sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Misalnya memberi penguatan, mengembangkan hubungan guru dengan siswa dan membuat aturan kelompok yang produktif.
Di kelaslah segala aspek pendidikan pengajaran bertemu dan berproses. Guru dengan segala kemampuannya, siswa dengan segala latar belakang dan sifat-sifat individualnya. Kurikulum dengan segala komponennya, dan materi serta sumber pelajaran dengan segala pokok bahasanya bertemu dan berpadu dan berinteraksi di kelas. Bahkan hasil dari pendidikan dan pengajaran sangat ditentukan oleh apa yang terjadi di kelas. Oleh sebab itu sudah selayaknyalah kelas dikelola dengan bagi, professional, dan harus terus-menerus.
B. Rumusan Masalah
1) Apakah perbedaan mengajar dengan manajemen kelas?
2) Apakah pengertian dan tujuan manajemen kelas?
3) Apakah aspek, fungsi dan pengaturan siswa dari manajemen kelas?



BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Guru memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Di dalam kelas guru malaksanakan dua kegiatan pokok yaitu kegiatan mengajar dan kegiatan mengelola kelas. Kegiatan mengajar pada hakikatnya adalah proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa. Semua komponen pengajaran yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, metode, alat dan sumber, serta evaluasi diperankan secara optimal guna mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelum pengajaran dilaksanakan.
B. Saran
Di masa yang akan datang, diharapkan sistem manajemen kelas agar lebih ditingkatkan lagi. Perkembangan pembelajaran di dunia global semakin pesat, oleh karena itu guru kelas diwajibkan untuk memiliki kompetensi khusus dalam mengelola kelas agar suasana belajar yang menyenangkan, efektif dan efisien dapat terlaksana dengan baik.







DAFTAR PUSTAKA

http://Manajemen-Kelas/Makalah“Manajemen-Kelas”Meilanikasim's-Blog.html
http://Manajemen-Kelas/Mengelola(Manajemen)-Kelas.html
http://sekolah-dasar.blogspot.com/2009/02/pendekatan-dalam-pengelolaan kelas.html
Rachman, Maman. 1998. Manajemen Kelas. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar